Refleksi Sumpah Pemuda Pasca Tahun Politik

Pertama:

Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

Kedoea:

Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Ketiga:

Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

 

Kalimat di atas merupakan ikrar tiga keputusan kongres pemuda yang diselenggarakan pada 27-28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta). Redaksional ikrar tersebut sebagaimana tercantum pada prasasti di dinding Museum Sumpah Pemuda. Penulisannya masih menggunakan ejaan Van Ophuysen. Tentu saja, kalimat itu sudah kita hafal di luar kepala sejak kecil.

Tanpa banyak perdebatan, kita juga menyepakati bahwa dalam Sumpah Pemuda tersebut, terkandung nilai-nilai dan cita-cita luhur bagi kita semua sebagai suatu bangsa. Nilai yang terkandung antara lain, seperti; persatuan dan kesatuan, cinta tanah air, patriotisme, sikap rela berkorban, mengutamakan kepentingan bersama, dapat menerima dan menghargai semua perbedaan, semangat persaudaraan, meningkatkan semangat gotong royong dan kerja sama.

Diusianya yang semakin bertambah dan selalu kita syukuri dengan melakukan berbagai macam refleksi setiap tanggal 28 Oktober itu, seharusnya nilai-nilai yang terkandung dalam sumpah pemuda tersebut, betul-betul kita aktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga, refleksi Sumpah Pemuda tidak hanya sebatas seremonial yang hanya selesai di mulut saja.

Apalagi, baru-baru ini kita sudah melewati bersama masa-masa krusial di tahun politik. Dimana, momentum tersebut sangat menguras tenaga, fikiran, bahkan materi selama perjalanan kontestasi politik. Baik Pemilihan Legislatif (Pileg), Pemilihan Presisen dan Wakil Presiden (Pilpres), maupun Pemilihan Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Tentu saja, dalam kontestasi tersebut mau tidak mau, suka tidak suka kita harus saling beehadap-hadapan dengan situasi dan kondisi perpolitikan yang sedikit memanas. Bahkan, cenderung memancing emosi. Terutama, saat masa tahapan Pemilu.

Berbagai macam insiden sesama anak bangsa sering kita jumpai di lapangan, mulai saling serang kata-kata, saling hujat menghujat, saling ancam, saling gugat ke publik dan ranah hukum, saling provokasi, saling tuduh, hingga berani menyebarkan fitnah melalui informasi atau berita hoaks. Tanpa kita sadari, hal itu membuat rasa persatuan dan kesatuan, serta persaudaraan kita sesama anak bangsa mulai terkikis. Kita juga mulai melupakan nilai- nillai yang terkandung dalam Sumpah Pemuda. Kita cenderung tidak dapat menerima dan menghargai perbedaan sesama anak bangsa.

Ironisnya lagi, demi kepentingan kelompok saat Pemilu kemarin, banyak yang menyebarluaskan informasi hoax yang jelas-jelas sangat berdampak terhadap persatuan dan kesatuan bangsa. Berdasarkan catatan Kementerian Komunikasi dan Informatika, sejak Bulan Agustus 2018 hingga April 2019, yakni selama masa kampanye hingga pelaksanaan Pemilu, teridentifikasi sebanyak 1.645 konten hoax yang muncul. Tentu saja, hal itu bukan muncul begitu saja. Melainkan sudah terencana oleh oknum tertentu demi kepentingan kelompoknya. Kemenangan dalam suatu kontestasi politik memang sangat penting, namun tidak dengan cara memecah belah persatuan dan kesatuan. Sebab, kerukunna antara sesama anak bangsa dan keutuhan NKRI haruslah di atas segalanya.

Sebagai generasi muda saat ini, salah satu tugas penting adalah menjaga sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara agar tetap utuh dan kuat. Para pemuda harus bisa merawat kebhinnekaan yang merupakan suatu keniscayaan bagi NKRI. Terutama, bagi generasi milenial, yang “melek teknologi”, harus menjadi benteng terdepan dalam memerangi muncul dan menyebarluasnya berita-berita bohong tersebut.

Sekali lagi, momentum Sumpah Pemuda tahun ini harus lebih bermakna dari sebelumnya. Hendaknya kita betul-betul menghayati dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dari setiap kalimat Sumpah Pemuda yang sakral itu. Tidak lain untuk memulihkan kembali hubungan yang sempat retak, mendinginkan suasana yang sempat memanas, dan mempererat kembali tali persaudaraan sesama anak bangsa, setelah melewati bersama-sama momentum tahun politik. Sehingga, Sumpah Pemuda yang kita refleksikan tidak hanya sekedar menjadi sumpah serapah tak bermakna. Tetapi, menjadi sumpah setia dan suci seperti Sumpah Palapa dan sumpah yang diucapkan pertama kali oleh pemuda pada tahun 1928 kala itu.

oleh Moh Amiruddin

Komisioner KPU Pamekasan